Filed under: Panabiduhut
Kisah di bawah ini saya kutip dari email yang terbawa kepada alamat emailku melalui suatu mailist dan menurutku sangat inspiratif. Kumasukkan ke dalam blogku sehingga suatu saat masih mudah kutemukan untuk di baca kembali. (Mungkin banyak para blogger yang sudah pernah membaca. Namun kalau masih mau membaca lagi…Silahkan J.
Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah namun ia terus bermimpi dan bermimpi…
Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel, mesin yang menjadi motor penggeraknya.di penggilingan padi tersebut, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam.
Bosnya yang bernama Saka Kibara sangat senang melihat cara kerja Honda. Honda sangat teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja ditempat tersebut, telah menambah wawasannya tentang permesinan.
Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya, Saka Kibara, mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya. Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan. Jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otaknya tetap kreatif. Pada zaman itu, ruji-ruji mobil terbuat dari kayu, hingga kurang baik untuk meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji tersebut dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras dan bahkan banyak diekspor sampai ke seluruh dunia.
Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah
lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang
kuliah – pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang
baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.
“Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,” ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia menjelaskan bahwa maksudnya kuliah bukan mencari ijasah melainkan pengetahuan. Namun, penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Malangnya, niat tersebut tersebut kandas. Jepang, karena bersiap untuk berperang, tidak memberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang, perang meletus. Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga dia memutuskan untuk menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda motor” – cikal bakal lahirnya mobil Honda – itu diminati oleh para tetangga. Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok.
Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor dan mobil Honda menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk Indonesia.
Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.
Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa suskes itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan berasal dari keluarga miskin.
No Comments Yet so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>