Filed under: Panabiduhut

Mazmur 23:1-6 Mazmur Daud.
1. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Psalms 23:1-6 A Psalm of David.
1. The LORD is my shepherd; I shall not want.
2 He makes me lie down in green pastures. He leads me beside still waters.
3 He restores my soul. He leads me in paths of righteousness for his name’s sake.
4 Even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for you are with me; your rod and your staff, they comfort me.
5 You prepare a table before me in the presence of my enemies; you anoint my head with oil; my cup overflows.
6 Surely goodness and mercy shall follow me all the days of my life, and I shall dwell in the house of the LORD forever.
Disarikan dari khotbah Pdt. D.A Tobing (pdt. Angkatan Udara, yang bertugas di Halim Jakarta Timur) pada saat kebaktian di salah satu rumah di Villa Wadas Jatiwaringin Jakarta Timur.
Dalam suatu lagu, makna kata tidak selalu bermakna lugas. Misalnya ungkapan dari seorang pemuda kepada kekasihnya, “Engkaulah matahariku”. Matahari dalam ungkapan tersebut bukan benar-benar matahari seperti matahari yang menjadi bintang dalam tata surya kita. Tetapi adalah menjadi simbol yang dianalogikan dengan matahari yang menjadi sumber cahaya.
Demikian juga dalam mazmur Daud yang ditulis dalam Alkitab. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. TUHAN dalam nats tersebut sengaja ditulis dengan huruf besar semua untuk menunjukkan bahwa TUHAN yang oleh orang Yahudi disebut YHWH. Menyebut nama TUHAN (YHWH) adalah sesuatu yang sangat serius oleh Yahudi, YHWH adalah nama yang sangat agung yang bahkan karena keagunganNya, mereka menyebut Adonai pada saat membaca tulisan YHWH.
Dan gembala dalam nats tersebut bukan bermakna lugas. Tetapi Daud ingin menunjukkan bahwa TUHAN yang maha agung itu adalah bukan Tuhan yang menjaga jarak dengan dirinya tetapi Tuhan yang dia gambarkan sangat dekat dengan dirinya seperti gembala yang sangat akrab dan dekat dengan dombanya dalam kehidupan. Memang kelihatan sangat kontradiktif bahwa TUHAN yang maha agung itu digambarkan oleh Daud sebagai Tuhan yang tidak lebih dari gambaran seorang gembala.
Pada suatu saat, di mana seorang Jenderal sedang mengisi acara non formal yang dihadiri oleh begitu banyak rekan sesama militer dan yang tentunya juga di bawah penjagaan para prajurit. Namun, seorang anak kecil, yang tidak dikenal para prajurit penjaga, dengan santainya berjalan perlahan dan mendekat ke arah sang Jenderal yang sedang memberikan orasi. Tiba-tiba satu dari penjaga mencoba menegur anak kecil tersebut agar tidak melanjutkan jalannya, tetapi anak tersebut berkata, ‘dia adalah bapakku”.
Demikian juga dalam hidup kita, di mana kita sering melihat keagungan Tuhan menjadi jarak yang begitu jauh dengan kita, tetapi Tuhan yang agung itu sebenarnya adalah Tuhan yang sangat dekat dengan hambanya bahkan mungkin lebih dekat dibandingkan dekatnya sang Jenderal dengan anak kecilnya dalam perumpamaan di atas.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang. Konteks ini mungkin tidak akan terasa indahnya jika situasinya kita bayangkan dalam konteks keberadaannya di tanah air kita. Padang yang berumput hijau dan air yang tenang adalah hal yang lumrah di tempat tinggal kita, Indonesia, bahkan mungkin bisa kita temukan di halaman belakang rumah kita. Namun, akan berbeda kalau konteks ini kita arahkan kepada situasi alam di Timur Tengah dengan gurunnya. Padang yang berumput hijau dan air yang tenang atau oase di tengah padang gurun adalah tempat yang begitu jarang dan menjadi tempat idaman di mana diperlukan waktu berhari-hari agar domba-domba bisa tiba di tempat tersebut.
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; TUHAN menuntun aku di jalan yang benar. Jalan yang benar tidak selalu berarti jalan yang enak dan mudah. Jalan yang benar adalah jalan yang harus ditempuh agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Jalan menuju oase, tempat idaman. Dalam nats berbahasa inggris, jalan di tuliskan dengan paths. Jalan yang dimaksud bukan street atau road. Paths adalah jalan setapak yang biasa kita jumpai di pedesaan atau perbukitan. Jalan yang membutuhkan kehati-hatian dan keteguhan hati. Jalan yang penuh kerikil, semak, serangga bahkan mungkin binatang melata. Jalan yang penuh dengan rintangan bahkan melewati perbukitan dan lembah yang gelap agar bisa berhasil sampai di tujuan. Ia menuntun aku di jalan yang benar.
gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Alangkah aman rasa domba dalam penyertaan gembala tersebut. Gembala itu akan menggunakan gada-Nya untuk memukul mundur pihak-pihak yang akan mencelakai dombanya. Tongkat yang pada ujung atasnya berbentuk ‘n’ akan dipakai sang gembala untuk mengait leher domba yang ingin mencoba keluar dari jalur dengan harapan bahwa domba tersebut akan kembali ke jalur atau jalan yang benar. Gada menjadi sesuatu pelindung terhadap gangguan external dan tongkat menjadi pengingat atas gangguan internal.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Barangkali kita juga semua tahu dari berita media atau sejarah bahwa perseteruan di timur tengah bukan hal yang bisa disepelekan seperti halnya perseteruan dua anak kakak beradik di kampung halaman. Di mana saat keduanya jika bertemu akan saling memalingkan muka. Tetapi perseteruan yang digambarkan di sini adalah perseteruan yang saling mengintai nyawa. Dia menyediakan hidangan bagi kita, di hadapan lawan. Bagaimana lagi caranya bisa menyantap hidangan di depan lawan yang sedang mengintai nyawa kita? Sang Gembala mampu melakukannya buat dombaNya.
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah; Pengurapan minyak atas kepala adalah menjadi simbol penobatan seseorang menjadi raja, seperti halnya Tuhan melakukannya kepada Saul dan Daud melalui perantaraan Samuel.
1 Comment so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
i love Jesus ^^
Comment by andri January 8, 2009 @ 3:30 pm